Make your own free website on Tripod.com

Sekilas Provinsi Gorontalo

DAERAH seluas 12.215 kilometer persegi (47% dari luas Sulut) yang berpenduduk lebih 800.000 jiwa ini ternyata memiliki dan menyimpan cadangan sumber daya alam cukup potensial di bidang pertanian, kehutanan, kelautan, dan pertambangan

Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Surjadi Soedirdja ketika berbicara di hadapan rapat umum dengan masyarakat dan para tokoh Gorontalo awal Desember 2000 dalam kunjungan pengecekan terakhir kesiapan berdirinya Provinsi Gorontalo mengatakan, modal utama Gorontalo untuk menjadi provinsi sendiri adalah tekad dan semangatnya yang menggebu-gebu. "Saya percaya masyarakat Gorontalo yang memiliki etos kerja keras dan berjiwa entrepreneurship (wiraswasta) akan mampu membawa dan menjadikan Provinsi Gorontalo sejajar dengan provinsi lain di Indonesia," kata Surjadi. Surjadi kembali ke Gorontalo untuk meresmikan terbentuknya Provinsi Gorontalo, Kamis (15/2) pekan di Lapangan Olahraga Taruna Remaja Gorontalo. (sumber Kompas)

Potensi di bidang pertanian dan kehutanan terlihat pada luas hutan produksi yang mencapai sekitar 1,5 juta hektar, perkebunan 250.000 hektar, persawahan 24.000 hektar lebih dan lahan pantai sepanjang 500 kilometer.

Di sektor kelautan, Provinsi Gorontalo yang diapit Laut Sulawesi dan Teluk Tomini menyimpan potensi dan kekayaan laut seperti ikan tuna, layang, tongkol, cakalang, nener bandeng, nike, cumi-cumi, kepiting, udang, kerapu, dan sebagainya. Beragam potensi kelautan tersebut kini mulai diincar investor Jepang dengan mulai menanamkan modalnya lewat pembangunan coldstorage berkapasitas 1.000 ton. Kekayaan laut Gorontalo juga menjanjikan obyek wisata laut.

Potensi di bidang pertambangan juga menjadi salah satu kekuatan utama. Menurut Profil Provinsi Gorontalo, total kekayaan tambang Gorontalo setelah dihitung nilainya mencapai sekitar Rp 75 trilyun, meliputi emas, tembaga, batu gamping, toseki, batu granit, batuan granitis, zeolit, dan lempung.

Gorontalo meskipun penangannya baru serba pas-pasan tetapi ternyata mampu mengekspor kayu gelondongan, minyak kelapa, bungkil kelapa, jagung, kakao, ikan beku, udang, kepiting, teripang, cengkeh, kemiri, ikan kerapu hidup, keseluruhannya bernilai hampir 10 juta dollar AS.

Dalam perdagangan antarpulau, Gorontalo selama ini memasarkan sapi, kuda, dan kambing. Posisinya yang terletak antara Sulawesi Utara dan Selatan juga membuka peluang sebagai kawasan transit barang dan jasa. Selain itu dilaporkan, Teluk Tomini juga menyimpan cadangan minyak dan gas bumi.

SELAIN potensi, Gorontalo juga bakal dihadang beragam persoalan yang bersumber dari rusaknya lingkungan alam yang ditandai mendangkalnya Danau Limboto. Kerusakan lingkungan yang berakibat banjir rutin-banjir pada Januari 2001 dianggap yang terparah dan mengakibatkan sekitar 29.000 warga dievakuasi-kekeringan dan kekerdilan lahan pertanian sebetulnya sudah mulai ditanggulangi dengan program peng-hijauan, namun ternyata program itu gagal akibat lemahnya pengawasan.

Selain pengawasan yang lemah, kegagalan penghijauan di Gorontalo juga terjadi akibat buruknya mental dan karakter pengusaha yang melaksanakan proyek penghijauan di era tahun 1980-an. Menurut informasi, karena luasnya areal proyek mencapai ribuan hektar serta jaraknya jauh dari kota atau pusat kabupaten, para pelaksana proyek penghijauan dengan mudah mengecoh para pengawas proyek.

Kini kegagalan proyek penghijauan serta kerakusan warga dengan melakukan penebangan kayu tanpa izin di masa lalu mulai dibayar mahal dan meminta korban. Data terakhir menyebutkan, akibat banjir Januari 2001, jumlah keseluruhan kerugian negara dan masyarakat mencapai hampir Rp 40 milyar, meliputi ribuan rumah penduduk rusak, jembatan dan jalan-jalan rusak, termasuk bangunan-bangunan sekolah dan bangunan pemerintah lainnya. Inilah potensi sekaligus tantangan bagi Gorontalo, provinsi termuda saat ini. (Sumber Kompas)

 

Kembali keatas